MASA IDDAH PEREMPUAN YANG DITINGGAL MATI SUAMINYA

Authors

  • Karimatus Sa’adah Sekolah Tinggi Agama Islam Darussalam Bangkalan Author
  • Mustafiroh Sekolah Tinggi Agama Islam Darussalam, Bangkalan Author
  • Amelia Ulfa Sekolah Tinggi Agama Islam Darussalam, Bangkalan Author
  • Islamiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Darussalam, Bangkalan Author

Keywords:

Masa iddah, al-Baqarah 234 dan 240, nasakh, tafsir komparatif.

Abstract

Penelitian ini mengkaji masa iddah bagi perempuan yang ditinggal mati suami melalui studi komparatif terhadap penafsiran Sayyid Quṭb dalam Tafsir Fi ilal al-Qur’an dan Al-Qurṭubī dalam Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, dengan fokus pada QS. al-Baqarah ayat 234 dan 240. Ayat 234 secara eksplisit menetapkan masa iddah selama empat bulan sepuluh hari tanpa menyebutkan kewajiban wasiat, sementara ayat 240 mengindikasikan hak istri atas nafkah selama satu tahun tanpa menyebutkan masa iddah secara tegas. Penelitian ini bertujuan untuk menyelaraskan kedua ayat yang tampak kontradiktif tersebut dengan menggunakan menggunakan metode muqaran (komparatif). Hasil kajian menunjukkan bahwa para ulama memiliki pandangan yang berbeda; sebagian berpendapat bahwa ayat 240 telah di-nasakh (dihapus hukumnya) oleh ayat 234, sementara yang lain memahaminya sebagai ketentuan wasiat tambahan yang bersifat sunnah atau anjuran. Pada intinya, masa iddah yang berlaku adalah empat bulan sepuluh hari, sedangkan ketentuan nafkah selama setahun lebih dipahami sebagai kebolehan yang tidak mengikat. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memperkaya pemahaman terhadap dinamika penafsiran ulama terkait dua ayat tersebut, sekaligus menjawab perdebatan mengenai status hukum ayat 240, apakah benar-benar terhapus atau masih memiliki relevansi dalam konteks tertentu.

References

Abdurrahman, Juzairi (Al), fikih empat madzhab jilid 5 tk: pustaka al-kauthar, tth.

Musthafa Bangha (Al), al- ‘iddah wa ahkamuha, damaskus: mahde-kashlan & k-rababa, 2014.

Al-Qurṭubī, Tafsir al-Qurṭubī jilid 3.

Amir, Ahmad Nabil dkk, intisari tafsir fi zilāl al-Qur’ān dan corak pemikiran adab ijtima’I dan hararkinya, jurnal studi al-qur’an dan tafsir volume 3 nomor 1 tahun 2025.

Idznul, Kukuh Prasetyo Haq, apakah ayat nasikh lebih menjamin keadilan gender ketimbang ayat mansukh?, IjouGS: Indonesi journal of gender studies, volume 6, No.1 juni 2025.

Marfina Eka Paja Agustin, tabayyun dalam al-qur’an (studi komparatif tafsir al-Qurthubi dan tafsir fi zilal al-qur’an), skripsi, IAINCURUP, 2020.

Muhammad ismail dan Makmur, al-Qurṭubī dan metode penafsirannya dalam kitab jami’ li ahkam al-qur’an, jurnal PAPPASANG 1 Volume , No.2 juli-desember 2020 I.

Nafidatul, Ummu Aina Khusna, A comparative study of islamic philantrophy in the tafsir al-jami’ li-ahkam al-qur’an and fi zilal al-qur’an, advances in humanities and contemporary studies, Vol. 6 No. 2, 2025.

Sayyid Quthb, Fi Zilal Al-Qura’an jilid 1, jakarta: gema insani, 2000.

Shomad Bukhori, good government kajian tematik dalam kitab tafsir fi zilāl al-Qur’ān, Malang, UM PRESS, 2011.

Warson, Ahmad Munawwir, tk,tp,tth.

Zaedi, Muhammad, karakteristik tafsir fi zilāl al-Qur’ān, jurnal al muhafid : jurnal ilmu al-Qur’an dan tafsir vol. 1 no. 1, pp.

Downloads

Published

2026-06-24

How to Cite

MASA IDDAH PEREMPUAN YANG DITINGGAL MATI SUAMINYA. (2026). Al-Kalimantan: Jurnal Kajian Keislaman, 2(2), 516-526. https://albaayaninstitute.org/index.php/alkalimantan/article/view/763

Similar Articles

31-40 of 56

You may also start an advanced similarity search for this article.